Abstrak
Baby Blues Syndrome merupakan suatu bentuk masalah mental yang dapat dialami oleh ibu pada masa nifas. Baby Blues Syndrome dapat dideteksi antara hari ketiga sampai ke empat belas dan memuncak pada hari kelima. Banyak factor yang menjadi pencetus baby blues syndrome diantaranya adalah perubahan fisik dan emosional, stress, tekanan sosial serta status ekonomi menjadikan resiko tinggi terjadinya baby blues. Dukungan suami merupakan faktor utama yang berperan dalam membantu ibu nifas menghadapi perubahan emosional dan fisik pasca persalinan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan dukungan suami dengan kejadian baby blues syndrome pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Grogol Kabupaten Kediri. Design penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi ibu nifas di bulan Februari – Maret 2024 sebanyak 56 orang dengan teknik purposive sampling maka sampel yang digunakan sebanyak 30 ibu nifas. Data dikumpulkan dengan kuesioner dukungan suami dan skrining EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale). Hasil analisis dengan uji fisher’s exact test atau p value yang diperoleh sebesar 0.026< 0.05, sehingga dinyatakan ada hubungan dukungan suami dengan kejadian baby blues syndrome. Hal tersebut mengindikasikan bahwa adanya dukungan suami merupakan faktor penting yang berperan menjaga kesehatan mental dan meminimalisir kejadian baby blues syndrome pada ibu nifas.
Kata kunci: dukungan suami, ibu nifas, baby blues syndrome